0

Ramadhan datang, alam pun riang

Ramadhan sebentar lagi datang. Lagi-lagi puasa lagi. Lalu apa yang membedakan ramadhan kali ini dengan ramadhan tahun kemarin? Yang membedakan adalah semangatnya. Kalau target ramadhan tahun lalu masih dikejar juga sampai ramadhan besok, berarti ada yang salah dengan semangat ramadhannya. Tiap tahun harus ada semangat baru, bukan hanya melanjutkan semangat yang lama. Perubahan yang terjadi pada pribadi kita tidak hanya berlangsung satu bulan ketika puasa, tetapi harus dipertahankan untuk bulan-bulan selanjutnya. Yang perubahannya hanya di bulan puasa saja, berarti masih ada yang perlu dikoreksi hasil ramadhannya.

Iklan
0

Integritas, dimana kau berada?

Hari ini dan kemarin saya acap kali bertemu orang yang menurut saya kurang cerdas. Dari yang buang sampah sembarangan, yang belok di jalan raya asal-asalan, yang menyerobot jalan sesukanya, dan masih banyak lagi. Istilah saya untuk menyebut mereka adalah¬†another idiot from Indonesia.” Lalu saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk membuat hal tersebut tidak terjadi pada keluarga saya. Hal yang saya garis bawahi adalah masalah integritas. Kepribadian yang baik, jujur, dan hormat adalah pribadi yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Tidak perlu jauh-jauh deh, cukup mengerti mana yang baik mana yang buruk saja itu sudah cukup sebagai modal.

Ada bapak-bapak buang sampah tissue dan makanan dari dalam mobil ke jalan raya. Dia melakukannya sangat santai tanpa ada tampang berdosa. Hal tersebut dilakukan di depan anaknya yang duduk di kursi depan di mobil tersebut. Istilah orang bule like father like son. Gimana mau jadi generasi penerus yang bisa dibanggakan, kalau bapakknya saja kasih contoh seperti itu. Hati ini trenyuh rasanya, sediih.. Apa yang ada di benak si bapak tersebut ya? Okelah tidak perlu jauh-jauh tentang mendidik anak, tapi apakah dia tidak sadar bahwa membuat sampah di jalan raya itu adalah hal yang nista? Itu yang saya sebut minimal mengerti mana yang baik dan mana yang buruk itu cukup sebagai modal. Si bapak ini mungkin belum mengerti mana hal baik mana hal buruk.

Ini kita baru membicarakan tentang konsep umum, bagaimana dengan konsep beragama??

1

Selatan dari Sulawesi Selatan

Beberapa pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah pantai yang indah bernama Pantai Bara. Pantai Bara ini berkedudukan di tempat yang cukup terkenal yaitu Tanjung Bira di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ada dua pantai di Tanjung Bira ini, pantai Bira dan pantai Bara. Menurut pengamatan penginderaan jarak dekat saya, pantai Bara lebih ciamiik dibandingkan dengan pantai Bira. Pantai Bara memiliki pasir putih halus lembut bak gula-gula dalam donat di tukang gorengan itu.

DSC_0135

Yang perlu diperhatikan ketika teman-teman dan handai taulan ingin berkunjung ke Tanjung Bira adalah pastikan memilih penginapan yang sesuai dengan budget, sesuai dengan keinginan, dan sesuai lokasinya. Penginapan di sana modelnya bukan seperti hotel, tetapi lebih ke guest house. Nah kebetulan kemarin saya dan teman-teman menggunakan penginapan bernama Cosmos (http://cosmosbungalows.com/). Tempatnya cukup terpencil, tetapi sangat menarik. Pengunjung seperti memiliki pantai pribadi. Untuk island hoping di penginapan ini tidak akan merasa rugi. Mantaap jaya sentosa pokoknya!! —idenya siapa?? COSMOS!– Berikut adalah screen shot dari Cosmos:

IMG-20150921-WA0011 IMG-20150921-WA0009 IMG-20150921-WA0020IMG-20150920-WA0063

Komponen lain yang perlu diperhatikan selain penginapan adalah jarah tempuh. Jarak tempuh Makassar ke Tanjung Bira kira-kira 5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Nah persiapkan fisik dan mental jika anda menyewa kendaraan dari Makassar dan hendak mengendarainya sendiri. Pengemudi di sana maunya cepat semua, pengendara sepeda motor tidak tengok kiri-kanan dulu ketika mau berbelok, ayam atau kambing bisa menyeberang jalan sesuka hati. Berhati-hatilah. Tapi perjalanan panjang itu akan terbayar lunas ketika melihat indahnya pantai bara di Tanjung Bira.

Untuk kegiatan yang bisa dilakukan, yang paling utama adalah BERMALAS-MALASAN. Bungalow Cosmos ini sangat cocok untuk bermalas-malasan. Atau mau tidur-tiduran di pasir pantai sambil bermandi cahya matahari juga bisa. Selain island hoping, teman-teman bisa melakukan kegiatan air yang tidak boleh dilewatkan yakni snorkel. Untuk snorkel, nanti akan diatur oleh warga lokal untuk kapal dan alat snorkelnya. Untuk penyewaan kapal, harga berkisar Rp 400,000 sudah termasuk dua pasang alat snorkel. Kalau mau tambah alat snorkel, cukup menambah biaya Rp 25,000 untuk satu alat snorkel. Spot favorit snorkel ada di Pulau Liukang Loe. Ada spot yang cukup menarik di situ. Banyak coral yang masih hidup (dan banyak yang sudah mati juga, sedih). Hanya saja ketika saya kesana, ombak cukup deras, spot snorkel cukup dangkal, alhasil kaki penuh dengan tato alami alias lecet-lecet. Oiyaa, satu tempat yang tidak boleh terlupa bagi pecinta air adalah tempat penangkaran penyu di Liukang Loe. Penyunya cukup besar dan bisa diajak bermain. Tempat penangkaran penyu ini dikelola oleh warga. Untuk masuk, dikenakan biaya Rp 10,000 saja. Cukup terjangkau untuk liburan ala ransel.

CYMERA_20150922_161134

Nah, komponen lain yang tidak bisa dilewatkan adalah bagaimana kuliner di sana. Sebenarnya di Tanjung Bira tidak banyak pilihan kuliner yang bisa dipilih. Saya membayangkan seafood yang fresh dan mantap, namun ternyata di sana lebih banyak warung-warung yang jualan minuman keras ketimbang jualan hidangan laut. Tidak banyak warung makan di Tanjung Bira. Kami lebih memilih makan di restoran bungalow saja ketimbang pergi keluar mencari makan yang kurang jelas jluntrungannya. Harga yang ditawarkan sangat masuk akal, kisaran Rp 30,000 – 40,000 dengan porsi yang cukup buanyak (porsi bule). Jika teman-teman ingin wisata kuliner, yang tidak boleh dilewatkan adalah sop saudara, coto kuda, dan makanan sejenis sop ikan-ikanan dan jeroan di sepanjang jalan dari Makassar hingga Tanjung Bira. Coto kuda terkenal ada di kabupaten Jeneponto. Sepanjang jalan akan banyak menemui penjual coto dari daging kuda. Untuk sop saudara juga ada di Jeneponto atau di kabupaten Bantaeng.

Tips dan trik ketika hendak berkunjung ke Tanjung Bira

  1. Siapkan fisik dan mental karena perjalanan cukup jauh, tidak ada alternatif transportasi lain selain angkutan darat (mobil).
  2. Jangan lewatkan kuliner sepanjang jalan dari Makassar menuju Tanjung Bira
  3. Pastikan teman-teman sudah booking penginapan dari sebelum keberangkatan, caranya bisa gooling lalu cari kontaknya. Karena tidak semua penginapan tersedia untuk go show. Jika memang mau go show, paling tidak sudah googling dulu penginapan yang kira-kira menarik apa saja di sana. Jadi tidak salah pilih.
  4. Jangan pikirkan pekerjaan ketika sudah di Tanjung Bira, just sit back and relax dude and ENJOY YOUR VACATION!
0

Tipikal pemotor di jalan raya

Memang perkataan hidup di jalan itu keras benar adanya. Banyak pengendara kendaraan yang tadinya sehat wal afiat, menjadi sakit jiwa ketika sudah berada di jalan raya. Karena selama ini saya lebih sering menggunakan motor kemana-mana, saya jadi sering memperhatikan pengguna motor di jalan raya. Berikut saya tulis beberapa jenis pemotor di jalan raya. Kira-kira para pembaca sekalian termasuk di kategori yang mana yaa… :D

  1. Tukang klakson. Oke, tipe yang pertama adalah si tukang klakson. Ini adalah pemotor yang bikin emosi jiwa pengendara lain. Karena ketika macet, atau cuaca sedang terik, dengar repetisi klakson itu merupakan hal yang paling mengganggu. Pemotor tipe klakson ini akan sedikit-sedikit menekan tombol klakson. Harapannya agar motor di depannya lebih cepat dan atau sedikit minggir supaya jalan dia tidak terhalang. Pokoknya tipe klakson ini pengennya tidak mau dihalang-halangi, klakson teruuuss… tin tiin tiiin…
  2. Tipe hemat sein, boros tangan. Nah tipe yang ini lucu lagi. Ketika mereka ingin berbelok, alih-alih menghidupkan sein mereka malah menggunakan tangannya untuk memberi aba-aba (sekaligus memblokir jalan) untuk mereka belok. Misal mereka ingin belok ke kiri, mereka mengangkat tangan kiri agak tinggi untuk menghadang kendaraan dari belakang yang berada di sebelah kirinya. Lalu berbeloklah dia. Tangannya itu sedikit mengganggu. Kalau lagi apes, posisi kita berada di sampingnya persis, badan (atau muka) kita akan tersambit oleh tangan ketika dia mengangkat tangannya itu. Ini kisah nyata sodara-sodara. ha ha ha
  3. Model ibu-ibu pakai matic. Model yang ini saya juga rada sensi terhadapnya. Model ibu-ibu matic ini layaknya orang yang dulunya tidak bisa naik motor, lalu dengan kehadiran motor matic dia jadi jago. Namun hanya jago ngegas dan ngerem, tanpa melihat situasi dan kondisi. Bahasa saya, tipe ini tidak peduli dengan kendaraan lain. Pokoknya digas, tancap terus, mau belok yaa direm, putar balik yaa asal putar saja. Serasa jalan raya itu sepi milik dia sendiri. Ngluyuurr gitu aja. Kalau dikasih tau, malah dia yang sewot. Pernah dulu saya mau ditabrak ibu-ibu pake motor matic dua kali oleh dua ibu-ibu yang berbeda hanya dalam tempo setengah jam. Sedih.
  4. Tipe tidak peduli dengan sisi kanan. Nah ini tipe yang berbahaya juga. Biasanya terjadi ketika pengendara motor tersebut ingin keluar dari gang atau di suatu persimpangan jalan dan dia hendak berbelok ke kiri. Biasanya ketika keluar dari gang dan tujuannya berbelok ke kiri, para pemotor ini tidak peduli dengan kendaraan dari sisi kanan. Hajaaar sajaa kebuutt.. Mereka pikir motor itu kecil, mereka tidak mengambil jalur jadi yaa gak perlu tengok kanan atau berhenti dulu. Idealnya adalah berhenti dulu, tengok kanan dulu, kalau aman baru jalan. Kalau main asal hajar, kalau kesenggol mobil kan berabe urusannya.
  5. Pengambil jatah pejalan kaki. Ini tipe yang saya benci juga (tapi kalau kepepet,saya melakukannya :P). Saya sering melihat para pemotor yang mengambil trotoar sebagai jalur utama mereka. Hal ini tidak dibenarkan menurut undang-undang dan tata krama. Karena pejalan kaki tidak pernah ambil lajur motor untuk berjalan kaki (kecuali sedang menyebrang jalan). Saya cukup idealis untuk hal ini. Saya lebih memilih ikut antri macet-macetan daripada naik ke trotoar. Hal yang saya sebut kepepet di atas itu jika memang sudah sangat terlambat atau sedang kebelet saja. he he
  6. Penggores mobil lalu ngebut. Kalau kategori yang ini adalah kategori yang sering memaksakan diri. Sudah tahu macet dan jarak antar mobil tidak terlalu luas, tetapi dia memaksakan diri untuk mengambil celah tersebut. Alhasil handle rem dia menyenggol body mobil dan atau spion dia kena spion mobil. Si pemilik mobil hanya bisa protes dengan membunyikan klakson keras dan lama. Namun sebagai pemotor yang komit pada kategori ini, dia lebih memilih ngebut setelah nyenggol mobil daripada minta maaf.
  7. Pelanggar rambu lalu lintas. Kalau yang ini, buanyak sekali ditemukan di kota besar (apalagi Jakarta). Kalau tidak melanggar, malah kita yang dimarahi. Rambu yang dilanggar ada banyak jenis, termasuk lampu merah, melawan arus, putar balik bukan di tempatnya, dan rambu lain sebagainya. Jujur saja saya termasuk kategori ini. ha ha ha.. Di Jakarta ini suka tidak sabar kalau harus menunggu lampu hijau, atau harus memutar di tempat yang jauh. Jadi cari jalan pintasnya saja.
  8. Tipe siku lebih penting daripada kepala. Ini pemotor yang lucu. Beli helm bukan untuk kepala, tapi untuk digantung di siku. Jadi melindungi siku lebih penting daripada melindungi kepala. Semoga saja otaknya tidak pindah ke siku yaa. he he he
  9. Tipe pecinta gadget. Pemotor yang satu ini adalah pemotor pecinta adrenaline. Dia suka untuk melakukan kegiatan berbahaya seperti membalas sms atau whatsapp sambil mengendarai motor. Kadang ketika melihatnya, saya ingin rasanya mengambil handphone-nya supaya dia tidak mainan handphone ketika berkendara. Namun saya takut dikira penjambret kalau melakukan hal itu. Galau.
  10. Heboh kalau bergerombol, sepi kalau sendiri. Ini tipe-tipe pemotor konvoi. Kalau rame, heboh pake bawa bendera dan berani nyetop kendaraan lain. Kalau lagi jalan berdua (ada dua motor), mereka beriringan seolah jalan milik mereka sendiri. Kalau diperingatkan malah emosi, berani melawan (karena ada temannya). Namun ketika sendiri, dia hanya celingak-celinguk tidak segahar ketika bersama teman-teman. Paling malas kalau udah ada konvoi yang makan jalur kendaraan lain. Memangnya ini jalannya mbahmu apa? Huuuufftt

Baiklah, sementara sekian dulu kategori atau tipe-tipe pemotor yang saya tahu. Tidak menutup kemungkinan nanti saya update lagi. Atau bagi yang mau menambahi, boleh melalu komen di bawah ini. Nanti saya tambahkan di tulisan saya ini. Si ateng bawa kayu, tengkyu!

0

Parkir (tidak) resmi

Bagi yang sering datang ke konser atau acara pameran atau apapun itu lah, pasti familiar dengan yang namanya parkir motor tidak resmi. Contohnya saya minggu lalu nonton acara musik di komplek Senayan, buanyaak sekali tukang parkir berbadan gelap, rambut sedikit keriting, dan berbahasa bukan bahasa jawa. Sepertinya saya tahu ini dari daerah mana. Nah, mereka biasa menarik biaya parkir motor. Di dalam komplek Senayan, setiap motor yang masuk pintu gerbang dikenakan biaya Rp 5,000, selanjutnya terserah anda. Kalau lagi mujur yaa bisa gratis, kalau lagi banyak yang jaga yaa bayar. Kemarin saya kena biaya Rp 10,000 untuk parkir tidak lebih dari dua jam. Harga yang fantastis mengingat ini parkir tidak resmi, tidak ada tiketnya, tidak beratap (kalau hujan yaa basah). Alasan dari tukang parkir ini adalah “kita di sini jaga e, kalau ada apa-apa, ada motor hilang bagaimana kalau tidak dijaga?” Dalam hati saya menjawab, “jaga parkir ndasmu. Wong tiket aja gak dikasih. Gimana bisa bedain mana pemilik motor dan mana pencuri motor?” Mereka mengotot untuk meminta biaya parkir sejumlah tersebut kepada seluruh pemilik kendaraan roda dua. Yaa apa mau dikata, semua orang yang parkir lebih memilih membayar daripada berurusan dengan orang-orang ini yang terkenal sering rusuh kalau sudah debat.

Lalu sepanjang jalan pulang saya berpikir, kemanakah uang itu mengalir yaa? Dishub apakah dapat jatah? Seingat saya dari cerita sodara yang kerja di Dishub, memang ada setoran resmi dari tukang parkir ke Dishub. Namun saya tidak tahu kalau yang “malak” seperti ini apakah ada setorannya juga atau tidak. Bayangkan jika dalam satu hari ada 1,000 motor parkir keluar masuk dalam acara tersebut, pendapatan kelompok “pemalak” ini bisa sampai 10 juta di hari itu saja. Semoga saja mereka cepat naik haji. Aamiin.

Yang saya sesalkan, mereka meminta bayaran mahal dengan alasan menjaga keamanan dan lain sebagainya, tetapi kenyataannya tidak sesuai ucapan manisnya. Kalau ada helm hilang, mereka tidak bertanggung jawab. Kalau ada motor yang hilang, mereka juga cuci tangan. Bikin dong tiket parkir, minimal cek STNK ketika keluar, jangan asal tarik duit lalu lepas tangan. Saya kutuk kamu nanti jadi tukang parkir baru tahu rasa. Huufttt…..

0

Kreativitas tanpa arah yang jelas

Sering kali di setiap sudut kota, setiap celah dinding, dimana pun berada ada yang namanya mural tak bertanggung jawab alias vandalisme. Saya cukup heran dengan para penulisnya (penggambarnya). Apa visi misi mereka melakukan hal tersebut. Untuk menandai wilayah kah, atau untuk eksistensi pernah datang ke tempat tersebut kah, atau hanya iseng karena stok cat semprot di rumah kebanyakan? Dilihat secara seni, isinya juga tidak nyeni. Sudah begitu, mereka (para penulis) menuliskan tulisan pada tembok kosong, pada pintu garasi, dan pada media yang seharusnya lebih indah kalau bersih. Ketika tembok dicat putih kembali (dibersihkan), tidak perlu waktu lama ada saja yang semprat-semprot cat di tembok itu lagi. Ada apa sih dengan seniman keblinger ini yaa? Mungkin dulu kecilnya bukan minum ASI eksklusif, tetapi minum cat semprot eksklusif. Sedih.

apa maksud tulisan-tulisan ini?

 

Trus kalau SMA kamu mejeng di sini, bangga gitu ya??

 

biarpun nyeni tulisannya, tetapi ini bukan tempatnya :(

 

kalau tempatnya sudah disediakan seperti ini, baru bisa dibilang “street art.” Rapi.

 

Lhaini juga rapi. Kreativitas pada tempatnya. Memang tempat yang disediakan untuk digambar.

 

mottonya orang kreatif yang keblinger

 

apapun itu, saya tidak mendukung yang namanya corat-coret di tempat umum. Beberapa Pemkot menyediakan media berupa tembok untuk digambar, tetapi bukan untuk dicoret-coret. Bijaklah sebagai pembuat karya, siapa tahu karyamu nanti diminta tanggung jawabnya di akherat. Street art yes, vandalisme no!

0

Fer(p)ect weekend!

Ha ha! Kita mulai tulisan ini dengan tertawa. Entah mengapa saya ingin berbagi cerita akhir pekan saya kepada anda semua para pembaca setia. Meskipun waktu sudah lewat dari weekend, saya tidak mau kehilangan momen akhir pekan ini. Walau hari telah berganti, tulisan ini tetap harus release segera. ha ha..

Berawal dari hari sabtu kemarin, kantor saya mengadakan acara agustusan. Para karyawan antusiasme-nya kurang karena itu hari libur, akhir pekan, dan sebagainya. Saya salah satu karyawan abnormal yang menganggap acara tersebut bakal seru. Kebetulan pula saya mengisi acara sebagai band kantor. Okelah saya niatkan untuk hadir. Eee tidak taunya, manajemen kantor memberikan kebijakan yang datang di acara tersebut mendapatkan satu hari cuti tambahan. Waaah keberuntungan saya dimulai. Walau gagal mendapatkan doorprize di acara tersebut, tapi saya senang karena saya akan mendapat satu hari tambahan cuti (di saat jatah cuti sudah kritis, haa haa). Setelah dari acara tersebut, dari awal sudah saya niatkan saya akan hadir ke acara nikahan teman saya. Namun ketika melihat acara kantor ini selesainya sedikit molor dari jadwal, saya sudah sempat enggan untuk datang kondangan. Saya hendak membatalkan rencana datang kondangan. Lalu dengan tekad kuat saya hapus rasa malas yang tiba-tiba muncul dan saya bela-belain datang ke kondangan walau harus ke kota Tangerang sana. Alhamdulilah memang rejekinya, saya dikenalkan kepada seseorang oleh teman saya. Hati saya sedikit berbunga dengan perkenalan ini karena yang dikenalkan ini kok rada bening auranya. Yaa siapa tahu saja niih siapa tahuu.. Ha ha ha..

Dan hari Minggu pun tiba. Seperti biasa saya bangun sedikit lebih siang. Niat main sepeda pun batal karena matahari sudah terlampau tinggi. Nah di hari Minggu pagi ini saya ada janji dengan teman saya untuk mengambil tiket nonton acara musik di Senayan. Namun karena saya bangun kesiangan, saya menunda pengambilan tiket menjadi siang hari. Seharusnya tiket ini saya ambil pada hari Sabtu sebelumnya. Akan tetapi, acara kantor yang molor itu mengubah semua jadwal ideal saya. Nah, setelah deal tiket diambil siang saja, saya pun bersantai-santai di rumah. Ketika siang tiba, matahari sudah melebihi sepenggalan, tetiba rasa malas untuk ambil tiket pun datang. Acara musik tersebut dimulai dari sore hari (di hari yang sama) sampai malam hari. Saya sempat mengurungkan niat menonton acara tersebut. Namun lagi-lagi dengan tekad bulat dan semangat silaturahmi juga, saya datangi teman saya untuk mengambil tiket sekalian mau mengembalikan handphone sodara saya yang tertinggal di rumah saya. Ketika tiba di rumah teman saya, saya pun disambut dengan berbagai hidangan seperti teh manis, kue, dan buah-buahan. Pas banget! Sepanjang jalan saya banyak melihat penjual rujak. Saya berikrar nanti dekat rumah kawan saya kalau ada penjual lagi saya mau beli. Eeee ternyata malah disuguhin (cuma kurang sambalnya saja sih :p). Setelah berbincang kesana kemari, saya pun pamit untuk menemui sodara saya untuk mengembalikan handphone-nya yang tertinggal. Saya menemuinya di sebuah mall besar di Senayan (sebut saja Sency). Ketika mengembalikan hape, saya terkejut karena saya mendapatkan bingkisan balik berupa mouse wireless baru gress. Yeaaaaay!! Di saat saya tidak punya mouse, saya mendapatkan mouse gratisan dan bagus pula. Ceritanya sodara saya meminta tolong kepada saya untuk mengubah gambar, dan saya curhat bahwa saya tidak punya mouse. Eeee dibelikan beneran ternyata, alhamdulillaaaah.. Lalu sembari menunggu acara musik itu mulai, saya pun menemani sodara saya jalan-jalan di Sency. Rejeki memang tidak kemana-mana. Saya ditraktir makan dan minum. Alhamdulillah, kenyang rasanya. Dari sore hingga petang saya tidak mengeluarkan uang untuk mengisi perut. Ha ha haa.. Setelah itu saya pun menonton acara musik itu. Seru sih walau awalnya bete karena lighting panggung yang kacau, tapi menarik lah. NAHH ternyata rejeki saya belum berhenti di makan-makan tadi. Di acara musik gitu biasanya kan ada pertanyaan-pertanyaan dari MC untuk penonton. Dan saya tidak sengaja menjawab dan mendapatkan hadiah. Walau hanya berupa tongsis, tapi menarik juga laah karena saya juga tidak punya alat beginian. Lumayan untuk selfie, udah ada tombolnya pula, canggih deh. Alhamdulillah. Ha ha ha..

Dan Minggu malam ini ditutup manis dengan perform dari Raisa yang aduhai nian paras mukanya. Cakep deh kak Yaya pokoknya. Nah sekarang inti dari permasalahan nih, moral cerita dari tulisan saya ini adalah janganlah kita malas mengerjakan sesuatu. Karena siapa tahu kita akan mendapat rejeki yang tidak terduga dari mengerjakan sesuatu itu. Jujur selama ini saya sering malas untuk mengerjakan sesuatu di akhir pekan. Baru akhir-akhir ini saja saya mau keluar rumah di akhir pekan. Dan ternyata terbukti! Semangat silaturahmi mendatangkan banyak rejeki. Sepanjang jalan pulang tadi saya berpikir untuk tidak akan malas mengerjakan sesuatu. Yaa kalau hanya menunda masih saya perbolehkan laaah :p

“ora obah, ora mamah”